Aisvara.id – Semangat saling membantu yang sebelumnya tumbuh dalam interaksi sosial konvensional, kini bertransformasi mengikuti arus ekonomi digital.
Perubahan ini diwujudkan melalui kehadiran Aplikasi Bantu Cari, sebuah platform kolaboratif karya anak bangsa yang resmi melakukan soft launching di kawasan Bintaro Sektor 3A, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.
Tidak hanya berfungsi sebagai ruang berbagi informasi, Bantu Cari dirancang sebagai ekosistem ekonomi online berbasis komunitas yang mempertemukan kebutuhan sosial dengan peluang penghasilan tambahan.
Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat saling membantu dalam pencarian barang hilang, hewan peliharaan, hingga orang hilang, sekaligus membuka ruang insentif ekonomi secara sukarela bagi para penolong.
CEO Aplikasi Bantu Cari, Muhammad Arbani, menjelaskan bahwa platform ini hadir untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus: solidaritas sosial dan dinamika ekonomi digital.
“Bantu Cari kami bangun dengan semangat gotong royong, tetapi kami juga menyadari bahwa masyarakat hari ini hidup di era ekonomi online. Karena itu, kami membuka ruang apresiasi berupa imbalan sukarela agar aktivitas sosial juga bisa bernilai ekonomi,” ujar Arbani.
Skema ini memungkinkan pengguna baik pencari maupun penolong memberikan kompensasi secara fleksibel, tanpa mengubah ruh utama Bantu Cari sebagai platform sosial.
Dengan model tersebut, Bantu Cari dinilai mampu menjadi bagian dari ekonomi gig yang tengah berkembang, di mana masyarakat dapat memperoleh penghasilan tambahan dari aktivitas sehari-hari.
“Contohnya, pengemudi ojek online yang sedang menunggu order bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk membantu pencarian barang hilang di sekitarnya. Jika berhasil, ia bisa mendapatkan imbalan. Ini bentuk ekonomi online yang inklusif,” jelas Arbani.
Untuk mendorong partisipasi dan produktivitas pengguna, Bantu Cari juga dilengkapi sistem peringkat (ranking system).
Fitur ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan antar pengguna, tetapi juga memacu keterlibatan aktif yang berdampak pada perputaran ekonomi digital di dalam aplikasi.
Lebih jauh, Bantu Cari tengah menyiapkan strategi kolaborasi lintas sektor guna memperkuat ekosistemnya.
Bersama COO Mohammad Henry Fajar Negara dan CTO Yuda Prawira, Bantu Cari berencana menggandeng kepolisian, rumah sakit, shelter hewan, komunitas relawan, hingga pelaku UMKM dan layanan berbasis lokasi.
“Jika ekosistem ini terhubung dengan baik dan jumlah pengguna mencukupi, proses pencarian bisa dilakukan lebih cepat, bahkan dalam waktu 1×24 jam. Dampaknya bukan hanya sosial, tapi juga ekonomi,” ungkap Arbani.
Dengan sistem terintegrasi, proses pencarian tidak lagi bersifat individual, melainkan menjadi aktivitas kolektif yang menciptakan nilai tambah bagi banyak pihak.
Arbani menambahkan, kekuatan Bantu Cari juga terletak pada soliditas tim internal yang berkomitmen membangun platform berkelanjutan.
“Kami ingin Bantu Cari tumbuh bukan hanya sebagai aplikasi, tapi sebagai ekosistem ekonomi online yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar inovasi digital, Bantu Cari menjadi bukti bahwa teknologi dapat menyatukan nilai sosial dan peluang ekonomi dalam satu platform.
Di tengah pesatnya ekonomi digital, Bantu Cari menunjukkan bahwa gotong royong tetap relevan bahkan bisa menjadi sumber nilai ekonomi baru di era online.








