Aisvara.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa penguatan industrialisasi berbasis sains dan teknologi menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga delapan persen.
Strategi tersebut dinilai krusial agar Indonesia mampu bertransformasi menjadi negara maju dan keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Pernyataan itu disampaikan Brian saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Alumni ITB Angkatan 1980 (ITB80) bertema “Strategi Teknologi, Industri, dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (31/1).
Dalam paparannya, Brian menyoroti tantangan serius berupa deindustrialisasi yang masih membayangi perekonomian Indonesia. Kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun, sehingga berdampak pada produktivitas dan daya saing nasional di tengah kompetisi global.
Menurutnya, Indonesia sejatinya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan sumber daya alam.
Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan nilai tambah maksimal tanpa dukungan riset, inovasi, serta kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan komunitas alumni.
“Jika Indonesia ingin menjadi negara maju dan keluar dari middle income trap, maka kita harus membangun industri yang maju dan berbasis sains serta teknologi. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan akan sulit dicapai,” tegas Brian.
Senada dengan hal tersebut, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menilai Seminar Nasional Alumni ITB80 sebagai forum strategis untuk merumuskan gagasan produktif dalam mendukung agenda Indonesia Emas 2045.
Ia menekankan bahwa transformasi menuju negara maju tidak bisa dilepaskan dari penguatan kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi.
Tatacipta juga menegaskan pentingnya kolaborasi yang solid antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah, dan dunia usaha agar ide-ide strategis tidak berhenti di tataran wacana, melainkan dapat diwujudkan menjadi program nyata.
“Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya alam semata. Kunci kemajuan ada pada kekuatan SDM dan teknologi. Karena itu, kolaborasi menjadi syarat mutlak agar gagasan bisa diterjemahkan menjadi kerja sama dan implementasi,” ujarnya.








