Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa edukasi penggunaan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru.
Pengembang teknologi, termasuk platform digital global, juga harus memikul peran besar dalam memastikan ruang digital aman dan mendidik.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam peringatan Safer Internet Day 2026 bertema Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AIdi Ruang Heritage Kantor Kemenko PMK, Selasa (10/2/2026).
Menurut Pratikno, penggunaan teknologi digital dan AI kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Karena itu, tanggung jawab moral dan sosial para pengembang teknologi menjadi semakin penting.
“Jangan sampai panduan sudah dibuat, tetapi tidak digunakan oleh guru, orang tua, dan anak-anak Indonesia. Targetnya bukan sekadar membuat, tetapi memastikan panduan itu benar-benar digunakan,” tegasnya.
SDM Unggul Tak Cukup Hanya Cerdas, Harus Sehat Mental dan Berkarakter
Pratikno menekankan bahwa pembangunan manusia Indonesia bertujuan melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan tangguh, bukan hanya cerdas secara akademik.
Kesehatan fisik, mental, moral, sosial, dan spiritual menjadi fondasi utama.
Di tengah disrupsi teknologi dan AI, kecerdasan tanpa karakter kuat dan kesehatan mental yang stabil dinilai tidak akan cukup.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk swasta dan pengembang teknologi global, untuk menciptakan sistem edukasi digital yang efektif dan berkelanjutan.
YouTube Klaim 96 Persen Guru Indonesia Manfaatkan Platformnya
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Hubungan Pemerintahan dan Kebijakan Publik YouTube Asia Tenggara, Danny Ardianto, menyampaikan komitmen platformnya dalam menciptakan ruang digital yang aman tanpa menjauhkan anak dari teknologi.
Ia menyebut, sebanyak 96 persen guru di Indonesia memanfaatkan YouTube sebagai media pembelajaran.
Melalui kolaborasi dengan Kemenko PMK dalam inisiatif AKSI Digital (Anak & Keluarga Sigap Digital), YouTube ingin memperkuat literasi serta ketahanan digital generasi muda.
“Kami ingin memastikan generasi muda memiliki pengetahuan dan ketahanan untuk berkembang di era digital,” ujar Danny.
41 Persen Anak Usia Dini Sudah Akses Internet, Tapi Minim Pendampingan
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, mengungkap fakta mengkhawatirkan.
Sekitar 41 persen anak usia dini telah mengakses internet, namun belum mendapat pendampingan optimal dari orang tua.
Kondisi ini meningkatkan risiko paparan konten negatif dan gangguan kesehatan mental.
Sebagai langkah konkret, Kemenko PMK menggulirkan program Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluargayang akan dimulai saat Ramadan melalui kegiatan Ramadhan Ramah Anak.
Program ini mendorong pengurangan screen time dan peningkatan green time demi memperkuat ikatan keluarga dan karakter anak.
Cek Kesehatan Digital Jadi Langkah Awal
Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Warsito, menegaskan bahwa gerakan bijak berdigital harus menjadi budaya, bukan sekadar program sesaat.
Salah satu langkah awal adalah Program Cek Kesehatan Digital (CKD) yang berfokus pada tiga pilar utama:
- Keamanan digital
- Kecakapan digital
- Etika digital
Menurutnya, regulasi memang penting, namun ekosistem kolaboratif multipihak adalah kunci keberhasilan.
Anak Butuh Pendampingan, Bukan Sekadar Larangan
Konten kreator Parentalk.id, Ario Pratomo, menilai pendekatan pembatasan semata tidak cukup efektif. Anak perlu didampingi, bukan hanya dilarang.
Senada dengan itu, Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI–RSCM, Tjhin Wiguna, menjelaskan bahwa secara biologis kemampuan kontrol diri anak belum berkembang sempurna.
“Pola asuh digital yang tepat adalah orang tua menjadi co-user, bukan solo user. Bukan melarang, tetapi mendampingi,” jelasnya.
Google Kucurkan USD 5 Juta untuk Kesejahteraan Digital Remaja
Sebagai bagian dari peringatan Safer Internet Day, Kemenko PMK bersama Mendukbangga, Menteri PPPA, Google, dan YouTube meluncurkan berbagai inisiatif penguatan ekosistem digital yang aman.
Melalui Google.org, Google menyalurkan dana sebesar USD 5 juta untuk mendukung kesejahteraan digital kaum muda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Program ini dijalankan bersama Yayasan Plan International Indonesia dan ICT Watch, dengan target pemberdayaan lebih dari 300.000 remaja, orang tua, dan guru.
Selain itu, hadir pula Program Percontohan Youth Champions dan seri konten edukasi yang melibatkan 10 kreator digital.
Kolaborasi Jadi Kunci Masa Depan Digital Indonesia
Pesan utama dari peringatan Safer Internet Day 2026 jelas: edukasi digital dan AI adalah tanggung jawab bersama.
Pemerintah, keluarga, sekolah, pengembang teknologi, hingga kreator konten harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Di era AI yang terus berkembang, Indonesia tidak bisa hanya menjadi pengguna. Generasi mudanya harus tumbuh sebagai SDM unggul—cerdas, sehat mental, dan berkarakter kuat di ruang digital.








