Aisvara.id – Gangguan pasokan bahan baku plastik kini mulai berdampak pada sektor pangan pokok strategis.
Pelaku usaha beras dan gula menjadi salah satu pihak yang terdampak karena ketergantungan pada kemasan berbahan plastik, khususnya karung.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pangan Nasional (Bapanas), fluktuasi pasokan plastik dipicu oleh dinamika global, termasuk kondisi geopolitik yang memengaruhi distribusi bahan baku.
“Dengan adanya gejolak geopolitik, memang ada beberapa sedikit yang mengalami kenaikan. Salah satunya plastik karena ternyata biji plastik itu waste-nya dari pengolahan minyak bumi dan sumbernya dari Timur Tengah juga banyak,” ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikutip Minggu (19/4/2026).
Sebagai langkah awal, Bapanas telah menjaring masukan dari pelaku usaha di sektor beras dan gula.
Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa keterbatasan pasokan plastik berimbas pada penyesuaian harga di tingkat produsen.
“Terkait plastik, itu sudah kami rapatkan juga, jadi kita sudah ketemu dengan teman-teman. Begitu ada isu plastik mengalami kekurangan pasok, kita sudah diskusi menghitung berapa sih dampaknya per kilo terhadap beras dan gula,” kata Ketut.
“Teman-teman pelaku usaha menyampaikan kalau di beras itu Rp 350 per kilogram. Kalau di gula sekitar Rp 150 per kilogram, artinya cukup berdampak dan ini yang harus kita jaga benar-benar untuk ke depannya,” tambahnya.
Meski demikian, pemantauan harga menunjukkan bahwa fluktuasi harga beras dan gula dalam sebulan terakhir masih berada dalam batas wajar.
Perubahan harga tidak mengalami lonjakan signifikan hingga di atas 5 persen.
Per 16 April, rata-rata harga beras medium tercatat masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Di Zona I, harga bergerak tipis dari Rp 12.964 per kilogram menjadi Rp 12.965 per kilogram atau naik 0,01 persen.
Zona II mengalami kenaikan dari Rp 13.585 menjadi Rp 13.622 per kilogram atau 0,27 persen.
Sementara Zona III naik dari Rp 15.056 menjadi Rp 15.154 per kilogram atau 0,65 persen.
Untuk komoditas gula, tren harga secara nasional juga berfluktuasi.
Di wilayah selain Indonesia Timur, harga naik dari Rp 18.240 menjadi Rp 18.615 per kilogram atau meningkat 2,06 persen.
Sebaliknya, di kawasan Indonesia Timur, harga gula justru turun 1,22 persen dari Rp 20.412 menjadi Rp 20.163 per kilogram.
Ketut menegaskan bahwa pihaknya akan meningkatkan koordinasi lintas kementerian guna mencegah dampak yang lebih luas dari fluktuasi pasokan plastik ini.
“Kita harus diskusi mendalam karena kalau tidak, harga akan bisa agak sedikit terkoreksi. Kami juga merencanakan rapat besar, artinya dengan kementerian lembaga terkait, untuk mencarikan solusi, karena pengaruh Rp 350 memang terasa kecil, tetapi berdampak karena per kilonya jadi naik,” ucap dia.







