Aisvara.id – Pemerintah menegaskan kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi fenomena El Nino.
Bahkan, tanpa adanya El Nino sekalipun, berbagai program penguatan ketahanan pangan nasional dipastikan tetap berjalan secara konsisten.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipatif, terutama dalam menjaga ketersediaan pangan di tingkat nasional.
“Saya sudah membahas beberapa kali tentang El Nino. Awalnya katanya April sudah mulai, tapi kan memang ini kita masih alami hujan. Artinya ada ketidakstabilan cuaca. Tentu pemerintah sudah mengambil langkah-langkah,” kata Ketut dikutip Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, kondisi pangan nasional saat ini menunjukkan perkembangan yang positif.
Sejumlah komoditas strategis tercatat dalam kondisi surplus, sehingga tidak memerlukan impor.
“Tentu kami punya proyeksi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan data dari BPS. Carry over stock beras dari tahun lalu sangat bagus, 12,4 juta ton. Jagung juga. Minyak goreng kita surplus. Daging ayam kita produksinya surplus. Kemudian yang lain juga, telur juga surplus,” urai Ketut.
Ia menegaskan bahwa program pangan harus terus dijalankan dalam kondisi apa pun, baik saat terjadi El Nino maupun tidak.
“Jadi ada atau tidak ada El Nino, program pangan harus dikembangkan dan itu memang berdasarkan kepentingan pertanian. Ada atau tidak ada El Nino, programnya harus berjalan terus. Karena apa? Tujuan kita adalah swasembada,” tambah dia.
Keberhasilan swasembada tersebut berdampak pada meningkatnya kekuatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Dengan stok yang lebih besar, pemerintah memiliki kemampuan lebih baik dalam menjaga stabilitas harga serta menghadapi potensi musim paceklik.
“Kemudian sekarang ini kita punya stok cadangan beras di Bulog 4,8 juta ton. Terbaik sepanjang masa. Artinya dengan kekuatan cadangan pangan, kita bisa mengendalikan harga. Kita harus meyakinkan stok CPP kita sangat bagus,” sebut Deputi Ketut.
Data Bapanas mencatat, sebelum puncak El Nino 2023, stok CPP masih relatif terbatas.
Pada awal September 2023, stok beras tercatat 1,52 juta ton, jagung belum tersedia, daging ayam ras 15,94 ton, serta minyak goreng sebesar 3,74 kiloliter.
Namun, hingga 17 April 2026, stok CPP mengalami lonjakan signifikan.
Stok beras mencapai 4,83 juta ton atau meningkat 217 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Jagung kini tersedia sebanyak 196 ribu ton, sementara stok daging ayam naik menjadi 27 ton.
Peningkatan paling drastis terjadi pada komoditas minyak goreng yang melonjak hingga 2.226,8 persen, dengan total stok mencapai 87 ribu kiloliter.
Ketut menegaskan bahwa penguatan sektor pangan dilakukan secara berkelanjutan dan tidak bergantung pada kondisi cuaca.
Fokus utama pemerintah tetap pada kemandirian pangan nasional.
Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian terus mempercepat berbagai program strategis, seperti peningkatan luas tanam, distribusi benih unggul, perbaikan irigasi, serta pemenuhan pupuk bagi petani.
Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menilai posisi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi dinamika global, termasuk di sektor pangan.
“Kita siap menghadapi dinamika global. Alhamdulillah, Indonesia dalam posisi yang kuat. Kebutuhan protein telah terpenuhi, bahkan berpotensi ekspor. Karbohidrat juga sudah swasembada,” ujar Amran.
Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis ketersediaan pangan nasional akan tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat langkah menuju kemandirian pangan.








