Aisvara.id – Prabowo Subianto mendorong percepatan realisasi program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt sebagai bagian dari transformasi energi nasional.
Arahan tersebut disampaikan oleh Brian Yuliarto usai pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/04/2026) kemarin.
Brian menjelaskan, Presiden secara khusus menekankan agar implementasi program PLTS dipercepat, terutama untuk menggantikan pembangkit listrik berbasis diesel yang dinilai kurang efisien dan tidak ramah lingkungan.
“Bapak Presiden menanyakan perkembangannya dan meminta agar itu dipercepat, terutama untuk yang diesel,” jelas Brian dalam keterangannya usai pertemuan.
Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 17 gigawatt pada tahun ini melalui pengembangan PLTS secara nasional.
Target tersebut mencakup pengurangan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sekaligus peningkatan kapasitas energi bersih.
“Ditargetkan tahun ini 10 gigawatt yang diesel itu bisa dikurangi, kemudian yang lainnya juga akan ditambah kira-kira sampai 7 gigawatt,” tuturnya.
Brian menambahkan, perhitungan kapasitas tersebut merupakan hasil kajian bersama sejumlah pihak, termasuk Kementerian ESDM, PLN, Danantara, serta para akademisi dari perguruan tinggi.
“Untuk saat ini, dari perhitungan yang dilakukan bersama-sama Kementerian ESDM, dari PLN, Danantara, dan beberapa ahli dari perguruan tinggi, itu kira-kira 17 gigawatt bisa dilakukan instalasi PLTS,” sambungnya.
Terkait pelaksanaan teknis, penentuan lokasi pembangunan PLTS akan sepenuhnya ditangani oleh PLN sebagai pelaksana utama program.
“Lokasi nanti semuanya dari PLN ya yang sebagai implementator dari program tersebut,” imbuhnya.
Percepatan pengembangan energi surya ini tidak hanya bertujuan memenuhi target kapasitas nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam transisi menuju energi bersih di kawasan.








