Aisvara.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui proyeksi iklim nasional dengan memperkirakan fenomena El Nino akan mulai berkembang dalam waktu dekat dan berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
Kondisi tersebut diprediksi memicu musim kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata normal di banyak wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan adanya peningkatan suhu muka laut di Samudera Pasifik yang menjadi salah satu indikator berkembangnya El Nino.
“Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujar Ardhasena, dikutip Kamis (11/6/2026).
Data BMKG menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik telah mencapai positif 1,0 derajat Celsius, sedangkan nilai Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat minus 0,56.
Berdasarkan hasil simulasi dan pemodelan iklim terbaru, peluang El Nino berkembang ke kategori moderat mencapai 98 persen.
Sementara itu, kemungkinan meningkat menjadi El Nino kuat diperkirakan sebesar 62 persen.
Selain perkembangan El Nino, BMKG juga mengawasi potensi munculnya IOD positif di Samudra India pada periode Juli hingga November 2026.
Apabila kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, dampaknya diperkirakan dapat memperparah kondisi kering di sejumlah daerah Indonesia.
Ardhasena menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi pola hujan di berbagai kawasan dunia dengan dampak yang berbeda-beda.
“Fenomena El Nino menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai wilayah dunia, tidak hanya di Indonesia. Namun, untuk Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering, terutama pada periode Juni hingga Januari,” katanya.
BMKG menyebutkan bahwa peningkatan curah hujan akibat El Nino justru berpotensi terjadi di wilayah Pasifik bagian tengah hingga April tahun berikutnya serta di kawasan pesisir Amerika Latin pada Januari hingga Mei.
Sebaliknya, penurunan hujan diprediksi terjadi di sejumlah wilayah seperti Brasil, India, dan Afrika bagian selatan.
Musim Kemarau Meluas
Seiring menguatnya pengaruh El Nino, BMKG memperkirakan cakupan wilayah yang memasuki musim kemarau akan semakin luas dalam beberapa bulan mendatang.
Pada Juni 2026, sebanyak 198 zona musim atau sekitar 31,6 persen wilayah daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau.
Area tersebut mencakup sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, wilayah selatan DKI Jakarta, Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua bagian timur.
Memasuki Juli 2026, sebanyak 66 zona musim atau sekitar 7,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau.
Wilayah tersebut antara lain berada di bagian barat Jambi, Kalimantan Timur, kawasan timur Kalimantan Selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, serta sebagian Maluku.
Awal Kemarau Datang Lebih Cepat
BMKG juga mencatat bahwa musim kemarau tahun ini cenderung datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
Sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dari biasanya.
Sementara itu, 165 zona musim atau 17,03 persen diprediksi berlangsung normal, dan 113 zona musim atau 9,52 persen diperkirakan mengalami keterlambatan.
Daerah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat meliputi Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, sebagian besar Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sejumlah wilayah Papua.
Mayoritas Wilayah Diprediksi Lebih Kering
Dari sisi karakteristik curah hujan, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Sebanyak 482 zona musim atau sekitar 56,18 persen wilayah daratan diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
Sementara itu, 210 zona musim atau 43,14 persen diperkirakan berada dalam kategori normal.
Hanya tujuh zona musim atau sekitar 0,68 persen wilayah Indonesia yang diperkirakan mengalami curah hujan di atas normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi faktor topografi lokal dan diperkirakan terjadi di sebagian Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara Timur.
Adapun wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih kering mencakup sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian Pulau Papua.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai risiko yang mungkin muncul.
Risiko tersebut meliputi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026.








