Aisvara.id – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) dalam pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan berkelanjutan.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang menjadi tonggak penting transformasi industri sawit nasional menuju ekonomi hijau.
Kolaborasi Indonesia–China ini difokuskan pada pengembangan teknologi ramah lingkungan, penyusunan metodologi penghitungan emisi karbon, hingga penguatan kapasitas petani sawit.
Langkah ini sekaligus membuka peluang integrasi sektor kelapa sawit ke dalam skema perdagangan karbon yang tengah berkembang.
Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Teni Widuriyanti, menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang untuk mempercepat transformasi industri sawit melalui inovasi teknologi rendah emisi serta pemanfaatan pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan.
Salah satu terobosan utama dalam kemitraan ini adalah pengembangan Pabrik Minyak Sawit Emisi Rendah (PaMER).
Teknologi tersebut diklaim mampu menurunkan emisi karbon hingga 79,19 persen dibandingkan teknologi konvensional, sekaligus menghasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi dan produk turunan yang lebih ramah lingkungan.
“Teknologi PaMER menjadi solusi konkret untuk menjawab tantangan keberlanjutan industri sawit. Inovasi ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk sawit nasional,” ujar Teni dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Penerapan PaMER diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar global, sekaligus membuka akses terhadap pembiayaan inovatif melalui mekanisme perdagangan karbon.
Untuk itu, Bappenas dan CSES akan melakukan kajian bersama guna menyusun kerangka perdagangan karbon yang aplikatif bagi sektor sawit.
Wakil Presiden dan Sekretaris Jenderal CSES, Xia Zuyi, menyebut kerja sama ini memiliki nilai strategis dalam konteks transisi hijau global.
Menurutnya, integrasi pengembangan industri dengan mekanisme perdagangan karbon dapat menjadi model baru bagi negara produsen sawit.
“Kerja sama ini menitikberatkan pada pengembangan industri sawit rendah emisi yang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Inisiatif ini memiliki nilai inovasi dan percontohan yang penting di tingkat global,” jelas Xia Zuyi.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Inovasi Pendanaan Pembangunan, Siliwanti, menilai kemitraan Bappenas–CSES mencerminkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Kerja sama ini juga menempatkan petani sawit sebagai aktor utama transformasi industri.
Melalui pembentukan koperasi, pelatihan, serta pertukaran pengetahuan, petani diharapkan dapat terlibat langsung dalam rantai nilai industri hijau dan memperoleh manfaat ekonomi berkelanjutan.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi yang inklusif, berdaya saing, dan relevan di tingkat internasional, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam pencapaian target iklim global.








