Aisvara.id – Percepatan transformasi teknologi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat tantangan industri penyiaran kian kompleks.
Kondisi ini menuntut regulator penyiaran untuk tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan memperkuat kolaborasi lintas negara.
Hal tersebut ditegaskan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Amin Shabana, dalam Lokakarya Regional bertajuk “Broadcasting in the Age of AI Disruption” yang digelar pada 4 Februari 2026 di Ballroom Lune Hotel Mövenpick, Jakarta.
Kegiatan ini dihadiri oleh otoritas regulasi penyiaran dan multimedia dari berbagai negara Asia Tenggara.
Amin menyampaikan bahwa forum regional ini merupakan inisiatif KPI yang telah dirintis sejak 2023 dan kemudian diusulkan kepada Sekretariat ASEAN untuk dikembangkan menjadi kerja sama regional yang berkelanjutan.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari ASEAN serta dukungan Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Biro Hubungan Internasional.
“Dengan dukungan ASEAN dan Kementerian Komunikasi dan Digital, persiapan kegiatan ini sudah berjalan sejak 2024. Ini menjadi bukti nyata komitmen KPI dalam membangun sinergi lintas negara untuk menjawab perubahan lanskap media global,” ujar Amin.
Menurutnya, globalisasi media dan pesatnya perkembangan teknologi digital membuat persoalan penyiaran tidak lagi bersifat nasional.
Oleh karena itu, KPI terus memperluas jejaring internasional, baik di kawasan ASEAN maupun dengan mitra global lainnya.
Ia juga mengapresiasi peran aktif Center for International Cooperation Kementerian Komunikasi dan Digital serta Sekretariat ASEAN yang secara konsisten mendukung berbagai program sejak 2024.
Salah satu inisiatif yang telah terlaksana adalah End of Year Digital Broadcasting Webinar yang melibatkan regulator penyiaran ASEAN dan akademisi internasional.
“Lokakarya regional ini menjadi kelanjutan dari berbagai inisiatif sebelumnya, sekaligus diintegrasikan dengan Broadcasting and Multimedia Regulatory Authorities Forum Southeast Asia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Amin menilai lokakarya ini memiliki nilai strategis untuk membekali regulator dan pelaku industri dalam merespons adopsi AI yang semakin masif.
Forum ini membuka ruang dialog mengenai isu etika, kesenjangan keterampilan SDM, tantangan model bisnis, hingga peluang inovasi konten berbasis teknologi mutakhir.
Ia menyoroti sejumlah tantangan bersama yang dihadapi industri penyiaran saat ini, mulai dari meningkatnya misinformasi dan hoaks, penggunaan AI generatif, maraknya konten deepfake, hingga potensi konten berbahaya yang dapat memicu instabilitas sosial.
“Melalui forum ini, kita memperkuat kerja sama melalui produksi bersama, pemantauan bersama, serta kolaborasi lintas negara untuk menghadapi ancaman yang sama,” tegas Amin.
Sebagai langkah penguatan kebijakan berbasis data, KPI juga telah melakukan studi dasar sejak Desember 2025 bekerja sama dengan University of Malaya dan Mitra Research Council Tama Indonesia.
Studi ini diharapkan menjadi fondasi bagi perumusan kebijakan dan kerja sama regional jangka panjang.
“Kami berharap lokakarya ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi mekanisme berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan industri penyiaran ASEAN di tengah perubahan pola konsumsi media publik,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Amin menyatakan optimisme bahwa kolaborasi regional akan menjadi kunci masa depan penyiaran di Asia Tenggara.
“Dengan kebersamaan, kita akan lebih kuat dalam memajukan industri penyiaran kawasan,” pungkasnya.








