Aisvara.id – Langkah inspiratif ditunjukkan oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam Gayasan Squad di Dusun Gayasan, Desa Jenggawah, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Di tengah meningkatnya persoalan limbah, mereka berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi solusi atas tantangan krisis energi.
Gerakan ini telah dirintis sejak sekitar satu tahun lalu.
Berawal dari keprihatinan terhadap tingginya volume sampah plastik yang sulit terurai dan mencemari lingkungan, para pemuda setempat terdorong untuk mencari solusi nyata yang memiliki nilai guna.
Koordinator Gayasan Squad, Ahmad Syaifuddin atau yang akrab disapa Asep, menyampaikan bahwa fokus utama inisiatif ini adalah mengatasi persoalan sampah di wilayah Jember.
Ia menegaskan, langkah awal yang mereka tempuh adalah menemukan metode pemusnahan plastik yang sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dalam proses produksi, kami menggunakan metode pirolisis. Sampah plastik kering dibakar dalam wadah tertutup selama sekitar enam jam dengan suhu mencapai 350 hingga 550 derajat Celsius menggunakan bahan bakar kayu. Proses pembakaran ini menghasilkan minyak mentah yang kemudian disuling kembali selama satu jam untuk memisahkan jenis-jenis bahan bakar,” terang Asep seperti dikutip dari klikjatim.com.
Dari proses tersebut, dihasilkan berbagai jenis bahan bakar seperti solar, premium, minyak tanah, hingga gas.
Untuk sementara, gas yang dihasilkan dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar dalam proses pembakaran karena keterbatasan teknologi penyimpanan.
“Secara teknis, setiap 10 kilogram sampah plastik yang diolah mampu menghasilkan sekitar 9 liter minyak mentah. Dari total produksi tersebut, komposisinya terdiri dari 60 persen solar, 15 persen premium, 10 persen minyak tanah, dan 5 persen gas. Berdasarkan referensi riset yang mereka pelajari, kualitas premium hasil olahan ini diperkirakan memiliki angka oktan (RON) antara 92,5 hingga 100, meskipun pengujian laboratorium secara mandiri belum dilakukan,” imbuhnya.
Menariknya, proses ini tidak menghasilkan limbah yang terbuang percuma.
Residu berupa karbon masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku briket maupun produk kerajinan.
Hal ini selaras dengan semangat yang diusung Gayasan Squad, yaitu “Sampah adalah Energi”, yang menekankan bahwa setiap jenis sampah memiliki potensi jika dikelola dengan baik.
Saat ini, kegiatan mereka masih difokuskan pada aspek pelestarian lingkungan, bukan komersialisasi.
BBM hasil olahan dimanfaatkan secara terbatas untuk kebutuhan warga, seperti bahan bakar mesin diesel pertanian dan pompa air.
Ke depan, Gayasan Squad berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi yang mereka gunakan.
Peningkatan kapasitas produksi serta penyempurnaan peralatan menjadi target agar seluruh hasil pengolahan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong terciptanya kemandirian energi di tingkat lokal, sekaligus menjadi contoh pengelolaan sampah plastik yang efektif dan berkelanjutan bagi daerah lain.








