Aisvara.id – Timnas Inggris kembali membuka peluang mengakhiri penantian panjang menuju final Piala Dunia.
Setelah gagal melangkah ke partai puncak pada edisi 1990 dan 2018, The Three Lions kini hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk mencapai final Piala Dunia FIFA 2026.
Namun, rintangan yang harus mereka lewati bukanlah lawan sembarangan, melainkan juara bertahan Argentina.
Perjalanan Inggris menuju semifinal berlangsung cukup meyakinkan. Skuad asuhan Thomas Tuchel membuka kiprah di Grup L dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia.
Selanjutnya, mereka bermain imbang tanpa gol melawan Ghana sebelum memastikan status juara grup usai menundukkan Panama 2-0.
Memasuki fase gugur, Inggris menunjukkan karakter kuat. Mereka berhasil bangkit dari ketertinggalan untuk menyingkirkan Republik Demokratik Kongo pada babak 32 besar.
Di babak 16 besar, The Three Lions harus berjuang dengan 10 pemain sebelum akhirnya mengalahkan tuan rumah Meksiko.
Mental juara kembali diperlihatkan Inggris saat menghadapi Norwegia di perempat final.
Sempat tertinggal lebih dulu, mereka membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1 berkat dua gol Jude Bellingham yang tampil luar biasa sepanjang turnamen.
Di sisi lain, Argentina juga melaju dengan performa impresif dalam misi mempertahankan gelar juara dunia.
Lionel Messi langsung mencuri perhatian sejak laga pembuka dengan mencetak hattrick saat Albiceleste mengalahkan Aljazair 3-0.
Tiga gol tersebut membuatnya menyamai rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Messi kemudian memperpanjang rekornya melalui gol-gol yang dicetak saat menghadapi Austria dan Yordania.
Kapten Argentina itu juga kembali mencatatkan namanya di papan skor ketika timnya menundukkan Tanjung Verde dan Mesir dengan skor identik 3-2 setelah melalui babak perpanjangan waktu.
Pada perempat final, Argentina kembali membutuhkan 120 menit untuk mengalahkan Swiss 3-1.
Julian Alvarez dan Lautaro Martinez menjadi penentu kemenangan lewat gol yang mereka ciptakan pada babak tambahan.
Bagi Inggris, semifinal kali ini menjadi yang kedua dalam tiga edisi terakhir Piala Dunia.
Sebelumnya mereka harus mengakui keunggulan Kroasia pada semifinal Piala Dunia 2018 melalui babak perpanjangan waktu.
Sementara itu, kegagalan serupa juga pernah dialami saat dikalahkan Jerman Barat lewat adu penalti pada semifinal Piala Dunia 1990.
Satu-satunya keberhasilan Inggris melangkah hingga final sekaligus meraih gelar juara dunia terjadi pada Piala Dunia 1966.
Harry Kane, yang juga menjadi kapten saat Inggris tampil di semifinal 2018, kini kembali memimpin tim dan masuk dalam persaingan perebutan Sepatu Emas setelah tampil tajam sepanjang turnamen.
Namun kekuatan Inggris tidak hanya bertumpu pada Kane.
Jude Bellingham juga tampil produktif dengan koleksi enam gol dari enam pertandingan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, Inggris memiliki dua pemain yang sama-sama mengoleksi enam gol dalam satu edisi turnamen.
Marcus Rashford menjadi pemain Inggris lainnya yang telah mencetak gol.
Sementara Anthony Gordon dan Bukayo Saka memberikan kontribusi penting melalui tiga assist masing-masing yang membuat lini serang Inggris semakin berbahaya.
Sementara itu, Argentina datang dengan status tiga kali juara dunia dan berpeluang menjadi negara pertama yang mampu mempertahankan gelar sejak Brasil melakukannya pada 1962.
Semifinal kali ini menjadi penampilan keenam Argentina di fase empat besar.
Menariknya, Albiceleste selalu berhasil melaju ke final dalam lima semifinal sebelumnya.
Lionel Messi juga memiliki peran penting pada dua semifinal terakhir Argentina.
Ia menjadi algojo penalti pertama saat mengalahkan Belanda melalui adu penalti pada 2014 serta mencetak gol pembuka ketika Argentina mengalahkan Kroasia 3-0 pada semifinal edisi berikutnya.
Meski Messi tetap menjadi pusat permainan, keberhasilan Argentina tidak hanya bergantung kepada sang megabintang.
Sebanyak tujuh pemain lain telah menyumbangkan gol sepanjang turnamen, sedangkan delapan pemain berbeda turut mencatatkan assist.
Di lini belakang, duet Cristian Romero dan Lisandro Martinez tampil solid dalam menjaga pertahanan.
Sementara Emiliano Martinez kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia dengan penampilan konsisten di bawah mistar.
Laga semifinal ini juga menjadi kelanjutan rivalitas panjang Inggris dan Argentina di Piala Dunia.
Dari lima pertemuan sebelumnya, Inggris meraih tiga kemenangan, sedangkan Argentina menang dua kali.
Inggris lebih dulu unggul lewat kemenangan pada Piala Dunia 1962 dan 1966.
Namun rivalitas kedua negara mencapai puncaknya pada Piala Dunia 1986 ketika Diego Maradona mencetak gol legendaris serta gol kontroversial “Tangan Tuhan” yang membawa Argentina menang di perempat final.
Pertemuan berikutnya terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis.
Laga tersebut dikenang karena gol spektakuler Michael Owen, kartu merah David Beckham setelah insiden dengan Diego Simeone, hingga kemenangan Argentina melalui adu penalti.
Empat tahun kemudian, kedua tim kembali bertemu di fase grup Piala Dunia 2002.
Beckham membalas kekecewaan edisi sebelumnya dengan mencetak gol kemenangan lewat titik penalti.
Hasil itu membuat Argentina tersingkir di fase grup untuk pertama kalinya dalam empat dekade, sedangkan Inggris melangkah ke perempat final sebelum dihentikan Brasil.








