Aisvara.id – Konsep gotong royong kini tidak hanya hadir dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.
Semangat saling membantu juga mulai dikembangkan melalui teknologi digital, salah satunya lewat aplikasi Bantu Cari.
Platform ini menawarkan layanan pencarian berbagai objek yang hilang, mulai dari hewan peliharaan, kendaraan, barang berharga hingga orang.
Pengguna dapat mengajukan pencarian dengan mekanisme sukarela maupun memberikan imbalan atau hadiah bagi pihak yang berhasil membantu menemukan objek yang dicari.
Sebagai informasi, Bantu Cari merupakan platform lost and found pertama di Indonesia yang resmi diluncurkan pada 2026.
CEO Bantu Cari, Muhammad Arbani, mengatakan konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan bentuk baru ekonomi gotong royong di tengah perkembangan teknologi digital.
“Jadi bantu cari ini kan salah satu aplikasi yang menawarkan konsep gotong royong. Gotong royong untuk mencari hewan, kendaraan, barang, orang yang hilang,” ujar Arbani.
Menurut Arbani, keberadaan opsi hadiah memberikan dimensi baru dalam praktik gotong royong.
Masyarakat tetap dapat membantu secara sukarela, tetapi mereka juga memiliki kesempatan memperoleh imbalan ketika berhasil membantu seseorang menemukan sesuatu yang hilang.
“Nah, di situ ada opsi. Bisa aja mencari secara sukarela ataupun mencari dengan imbalan hadiah,” ucapnya.
Ia menilai mekanisme tersebut tidak sekadar berkaitan dengan pencarian barang atau orang yang hilang.
Lebih jauh, konsep itu dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk saling membantu sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi berbasis partisipasi.
“Nah ini kan sukarela, tapi artinya orang ini tergerak ada upaya baru untuk menggerakkan ekonomi yaitu dengan bergotong royong bergerak dan mencari sesuatu yang hilang dengan kemudian bisa mendapatkan imbalan gitu. Itulah yang dinamakan sebenarnya konsep ekonomi gotong royong,” jelasnya.
Bertumpu pada Kekuatan Komunitas
Dalam pengembangannya, Bantu Cari menempatkan komunitas sebagai salah satu elemen penting. Pertumbuhan aplikasi dinilai tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan masyarakat yang ikut membantu proses pencarian.
Di tengah kondisi geopolitik yang dinilai masih penuh ketidakpastian, Bantu Cari memilih untuk memperkuat kualitas layanan dan membangun ekosistem komunitas dibandingkan mengejar ekspansi secara berlebihan.
Perusahaan juga memberikan perhatian terhadap pemberdayaan kreator mikro. Para pembuat konten berskala mikro dipandang memiliki peran dalam membantu memperluas jangkauan informasi pencarian sekaligus membangun kedekatan dengan komunitas.
Strategi tersebut menjadi penting karena karakter Bantu Cari sangat bergantung pada kecepatan penyebaran informasi.
Semakin luas sebuah informasi pencarian menjangkau masyarakat, semakin besar pula peluang objek yang hilang dapat ditemukan.
Mengandalkan Prinsip Saling Membantu
Bantu Cari juga mempertahankan prinsip sosial sebagai fondasi utama bisnisnya. Semangat untuk membantu orang lain menemukan sesuatu yang hilang menjadi nilai yang terus dibawa dalam pengembangan platform.
Prinsip tersebut menjadi pembeda ketika perusahaan harus menghadapi situasi bisnis yang penuh tantangan.
Ketika ketidakpastian geopolitik dan perubahan lanskap industri teknologi terjadi, Bantu Cari memilih mempertahankan tujuan sosial sekaligus membangun model bisnis yang efisien.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan meyakini ekosistem Bantu Cari dapat berkembang karena memiliki dasar berupa kepedulian sosial dan kekuatan komunitas.
Optimistis Terus Bertumbuh
Dengan menggabungkan kekuatan komunitas, misi sosial, pemberdayaan kreator mikro dan efisiensi operasional, Bantu Cari optimistis dapat terus berkembang.
Model ekonomi gotong royong yang ditawarkan juga membuka kemungkinan baru dalam hubungan antara teknologi, aktivitas sosial, dan ekonomi masyarakat.
Pengguna tidak hanya menjadi pihak yang membutuhkan bantuan, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai orang yang membantu pencarian.
Melalui mekanisme sukarela maupun pemberian hadiah, Bantu Cari mencoba membangun ekosistem yang mempertemukan kebutuhan seseorang dengan kepedulian dan partisipasi orang lain.
Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu harus ditempatkan semata-mata sebagai alat transaksi.
Teknologi juga dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam bentuk yang lebih sesuai dengan kehidupan masyarakat digital.








