Aisvara.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi katalisis untuk mengolah minyak nabati menjadi bahan bakar terbarukan.
Riset ini difokuskan pada pemanfaatan trigliserida sebagai bahan baku produksi bensin hijau (green gasoline), diesel hijau (green diesel), hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel).
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN, Kiky Corneliasari Sembiring, menjelaskan bahwa trigliserida yang terkandung dalam minyak nabati memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi berbagai produk energi alternatif.
Menurutnya, penggunaan karbon yang berasal dari sumber hayati dapat menjadi salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mendukung transisi energi berkelanjutan.
“Karbon dari sumber hayati dapat diperbarui melalui siklus pertumbuhan tanaman yang relatif singkat. Pemanfaatan karbon terbarukan dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung transisi energi berkelanjutan,” ujar Kiky dalam Webinar KATALIS TALKS Series 3: International Collaboration yang diselenggarakan secara daring pada Selasa (20/10/2026).
BRIN Uji Sejumlah Metode Pengolahan Trigliserida
Dalam pengembangan bahan bakar terbarukan, terdapat sejumlah metode yang dapat digunakan untuk mengonversi trigliserida. Metode tersebut mencakup transesterifikasi, hydroprocessing, pirolisis, dan hidrolisis.
Kiky menerangkan, proses hidrolisis berfungsi memecah trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol.
Asam lemak yang dihasilkan kemudian berpotensi diproses lebih lanjut menjadi hidrokarbon sebagai komponen bahan bakar.
Pengujian hidrolisis menggunakan minyak sawit dilakukan selama 20 menit dengan variasi suhu antara 170 hingga 330 derajat Celsius.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan suhu berpengaruh terhadap jumlah asam lemak yang dihasilkan.
Pada suhu 300 derajat Celsius, perolehan asam lemak tercatat mendekati 90 persen. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator potensi pengembangan proses konversi minyak nabati untuk menghasilkan bahan baku energi.
Katalis Nikel Dikembangkan sebagai Alternatif Logam Mulia
Selain menguji metode konversi, BRIN mengembangkan katalis berbasis nikel dan timah dengan penyangga karbon aktif. Pengembangan ini diarahkan untuk menghadirkan alternatif katalis yang tidak bergantung pada penggunaan logam mulia.
Katalis menjadi komponen penting dalam proses konversi karena berperan membantu berlangsungnya reaksi kimia.
Oleh sebab itu, pemilihan material katalis turut menentukan efisiensi dan stabilitas proses pengolahan bahan baku menjadi produk energi.
“Pengembangan tersebut bertujuan menghasilkan katalis yang lebih ekonomis, sekaligus meningkatkan kinerja dan stabilitas proses konversi minyak nabati. Kami mengeksplorasi katalis berbasis nikel sebagai alternatif yang lebih ekonomis,” ujar Kiky.
Pengujian selanjutnya dilakukan melalui proses deoksigenasi minyak sawit RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil). Dari pengujian tersebut, diperoleh sekitar 85 persen hidrokarbon dan 15 persen asam lemak.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan katalis berbasis nikel dan timah berpotensi mendukung proses pengolahan minyak nabati menjadi hidrokarbon.
Meski demikian, optimalisasi material katalis dan kondisi reaksi tetap diperlukan untuk meningkatkan kinerja teknologi tersebut.
Minyak Jelantah Berpotensi Menekan Emisi Karbon
BRIN juga melihat peluang pemanfaatan minyak jelantah dan bahan baku nonpangan lainnya untuk memproduksi bahan bakar nabati atau biofuel.
Penggunaan bahan tersebut tidak hanya membuka peluang pemanfaatan limbah, tetapi juga dapat meningkatkan nilai ekonominya dalam kerangka ekonomi sirkular.
Dalam perbandingan yang dipaparkan, bahan bakar yang berasal dari minyak jelantah memiliki intensitas emisi sekitar 18 gram CO₂ ekuivalen per megajoule.
Angka ini lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet berbasis fosil yang mencapai sekitar 89 gram CO₂ ekuivalen per megajoule.
Berdasarkan skenario perhitungan tersebut, penggunaan bahan bakar dari minyak jelantah berpotensi mengurangi intensitas emisi hingga sekitar 80 persen dibandingkan bahan bakar jet fosil.
Namun, Kiky menjelaskan bahwa besarnya pengurangan emisi tidak selalu sama pada setiap proses produksi.
Hasilnya dipengaruhi oleh jenis bahan baku, teknologi pengolahan, kebutuhan energi, serta metode yang digunakan untuk menghitung emisi.
Melalui rangkaian penelitian tersebut, BRIN berupaya mengembangkan teknologi katalisis yang mampu mengubah sumber karbon terbarukan menjadi produk energi bernilai tambah.
Penyempurnaan katalis dan proses konversi diharapkan dapat mendorong produksi biofuel yang lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.








