Aisvara.id – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meresmikan fasilitas Good Laboratory Practice (GLP) dan Whole Blood Automation System (WBA) di Laboratorium Uji Saring dan Produksi UDD/UPD Palang Merah Indonesia Kota Bandung.
Kehadiran fasilitas ini menandai pencapaian baru karena menjadi yang pertama di Indonesia dan ketiga di kawasan Asia Tenggara.
Peresmian ini menjadi simbol kemajuan dalam transformasi digital layanan kesehatan di Kota Bandung, khususnya dalam pengelolaan donor darah.
Teknologi yang dihadirkan dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah hari ini kita meresmikan fasilitas terbaru di PMI Kota Bandung. Ini merupakan bentuk digitalisasi pengelolaan donor darah agar bisa betul-betul efisien dan optimal menggunakan teknologi terbaru,” ujar Farhan dalam keterangan resminya dikutip Selasa (5/5/2026).
Ia menilai, implementasi sistem GLP dan WBA merupakan tonggak penting dalam dunia layanan darah nasional.
Pencapaian tersebut tidak lepas dari kolaborasi antara PMI Kota Bandung, PMI Jawa Barat, PMI Pusat, serta dukungan sektor swasta.
“Ini yang pertama di Indonesia. Saya sangat mengapresiasi kerja keras PMI Kota Bandung dengan dukungan PMI Jawa Barat dan PMI Pusat, sehingga bisa bekerja sama dengan pihak swasta menghadirkan layanan terbaik,” katanya.
Farhan menjelaskan, keunggulan utama dari sistem ini terletak pada otomatisasi proses pengolahan darah.
Dengan teknologi tersebut, darah donor dapat diproses menjadi berbagai komponen seperti Packed Red Cells (PRC), plasma, trombosit, dan leukosit dalam waktu yang lebih singkat.
Selain mempercepat proses, sistem digital yang diterapkan juga meminimalkan kesalahan pencatatan yang kerap terjadi pada metode manual, termasuk risiko tertukarnya data maupun sampel.
“Dengan sistem ini, pencatatan tidak lagi manual sehingga risiko tertukar bisa dihindari. Ini membuat proses menjadi lebih akurat dan efisien,” tambahnya.
Dari sisi kapasitas, fasilitas ini mampu menangani lebih dari 1.000 sampel donor darah setiap hari.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan stok darah sekaligus mempercepat distribusi layanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Farhan pun mengajak masyarakat untuk lebih aktif mendonorkan darah.
Menurutnya, kehadiran teknologi ini juga memberikan nilai tambah berupa skrining kesehatan bagi para pendonor.
“Dengan adanya alat ini, masyarakat juga bisa mendapatkan skrining kesehatan dari tes darahnya. Ini akan mendorong gaya hidup sehat di Kota Bandung,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kota Bandung, Ade Koesjanto, menegaskan bahwa pelayanan darah merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
“PMI bertugas menyediakan darah yang aman, berkualitas, dan sehat. Peresmian GLP dan Whole Blood Automation System ini merupakan komitmen kami untuk terus meningkatkan pelayanan,” jelasnya.
Menurutnya, penerapan GLP diharapkan dapat menjadi acuan baru bagi unit donor darah di berbagai daerah di Indonesia.
“Insyaallah PMI DKI dan PMI Surabaya akan segera menyusul, diikuti oleh UDD lainnya di seluruh Indonesia,” katanya.
Ade juga menyampaikan terima kasih kepada mitra swasta, yakni PT Abbott dan PT Istama Ranoraya, yang telah berkontribusi dalam pengadaan serta pengembangan fasilitas tersebut.








