Aisvara.id – Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan modern, jejak rasa dari Ranah Minang justru hadir lewat semangkuk cendol yang sederhana.
Hijau cendol, putih santan, manis gula, taburan ampiang dan lembutnya durian berpadu menjadi satu pengalaman kuliner yang membawa pengunjung sejenak mengenal tradisi Sumatera Barat.
Pemandangan itu dapat ditemui di Festival Kuliner Serpong (FKS) ke-14 yang digelar Summarecon Mall Serpong mulai dari 13 Agustus hingga 13 September 2026.
Tahun ini, FKS mengangkat kekayaan kuliner lintas Sumatera dengan tema “Satu Jalur Seribu Rasa-Lintas Sumatera” menghadirkan beragam makanan dan minuman khas dari Aceh hingga Lampung.
Di antara berbagai sajian tersebut, Cindua Winata Cendol Ampiang Durian Minang menjadi salah satu kuliner yang menawarkan cerita berbeda.
Bukan sekadar minuman pelepas dahaga, cendol ampiang membawa jejak tradisi kuliner masyarakat Minangkabau ke ruang yang lebih modern dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Bagi Uda Pay, pemilik Cindua Winata Cendol Ampiang Durian Minang, keikutsertaan dalam FKS menjadi kesempatan untuk memperkenalkan cendol khas orang Minang kepada masyarakat di Tangerang dan sekitarnya.
“Cendol orang Minang juga ada, saya ingin memperkenalkan,” ujar Uda Pay.
Ketika Cendol Bertemu Ampiang
Sekilas, cendol Minang mungkin terlihat tidak jauh berbeda dengan cendol yang selama ini dikenal masyarakat Indonesia.
Namun, ada satu unsur yang membuatnya memiliki karakter tersendiri yakni ampiang.

Dalam tradisi kuliner Minangkabau, ampiang dibuat dari beras ketan atau beras pulut yang ditumbuk hingga pipih.
Bahan tersebut kemudian menjadi bagian dari berbagai sajian tradisional masyarakat Sumatera Barat.
Pada cendol khas Padang, ampiang hadir sebagai salah satu pembeda.
Cendol dipadukan dengan ampiang, gula aren, santan, serta pelengkap lainnya.
Dalam perkembangannya, cendol juga dapat disajikan bersama durian, menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih dan aroma buah yang kuat.
Tradisi mengolah ampiang sendiri bukan sekadar cerita masa lalu.
Di Sumatera Barat, proses menumbuk beras ketan menjadi ampiang bahkan masih dipertahankan sebagai tradisi masyarakat, salah satunya melalui tradisi Manumbuak Ampiang di Nagari Talang Babungo, Solok.
Dari sinilah semangkuk cendol ampiang tidak hanya berbicara tentang rasa.
Ada cerita tentang beras ketan, keterampilan mengolah bahan pangan dan warisan kuliner yang diturunkan antargenerasi.
Daun Suji dan Rasa yang Dipertahankan
Di tangan Uda Pay, tradisi tersebut tidak berhenti pada cerita.
Proses pembuatan cendol tetap mempertahankan cara tradisional.
“Pembuatan cendol tetap menggunakan pembuatan tradisional. Cendolnya tetap menggunakan bahan dasar daun suji,” katanya.
Daun suji digunakan untuk menghasilkan warna hijau alami pada cendol.

Sementara dalam semangkuk sajian Cindua Winata, terdapat gula, ampiang dan bahan sagu yang menjadi bagian dari karakter minuman tersebut.
Kombinasi bahan itu kemudian bertemu santan dan kelapa.
Hasilnya adalah rasa yang tidak hanya manis, tetapi juga memiliki sensasi gurih yang menjadi ciri kuat sajian tradisional tersebut.
Khusus untuk FKS tahun ini, Uda Pay juga menghadirkan sajian ampiang sebagai bagian dari menu yang diperkenalkan kepada pengunjung.
Dan, dikirim langsung dari tanah Sumatera Barat.
“Untuk Ampiang itu khusus untuk festival aja. Dikirim langsung dari Sumatera Barat,” katanya.
Pilihan tersebut membuat FKS menjadi semacam ruang temu antara kuliner tradisional dan masyarakat urban.
Pengunjung yang mungkin sebelumnya hanya mengenal cendol sebagai minuman khas daerah lain, kini memiliki kesempatan mencicipi versi Minang dengan harga Rp20 ribu hingga Rp35 ribu dan mempunyai karakter yang berbeda.
Terbantu dengan Hadirnya FKS
Di balik semangkuk cendol, terdapat pula cerita tentang perjalanan sebuah usaha kecil.
Uda Pay mengaku baru tahun ini membawa Cindua Winata Cendol Ampiang Durian Minang ke Festival Kuliner Serpong.
Baginya, keikutsertaan tersebut bukan hanya soal berjualan, tetapi juga membuka kesempatan agar kuliner yang dibawanya semakin dikenal.
“Baru tahun ini ikut FKS. Dan, Alhamdulillah dari empat cendol yang dicoba, cendol kami mendapat peringkat teratas.,” tuturnya.
Ia menilai penyelenggaraan festival kuliner seperti FKS memberikan ruang penting bagi pelaku UMKM.
Sebab, selain bertemu langsung dengan konsumen, pelaku usaha juga mendapatkan kesempatan memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
“Bagus, semoga diadain terus paling enggak daerah Tangerang Raya jadi tau ada cendol khas Minang. FKS juga jadi ajang promosi, kalau kita sebagai UMKM menengah ke bawah terbantu dengan adanya festival kuliner seperti ini. Apalagi kami berangkat dari gerobak tenda dan Alhamdulillah bisa ikut festival kuliner seperti ini. Jadi makin semangat sebagai UMKM,” kata Uda Pay.
Lebih jauh, usaha cendol tersebut ternyata ikut memberikan dampak terhadap kehidupan keluarganya.
“Anak dari satu sekarang lima dari hasil cendol ini,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan bahwa sebuah usaha kuliner tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Dari sebuah gerobak, resep tradisional dan keberanian menjajakan rasa khas daerah, sebuah keluarga dapat membangun kehidupan sekaligus mempertahankan warisan kuliner.
FKS dan Ruang untuk UMKM
Kehadiran Cindua Winata menjadi bagian kecil dari misi lebih besar Festival Kuliner Serpong.
Selama penyelenggaraannya, Summarecon secara konsisten menggunakan festival kuliner sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan kuliner sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM.
Dalam laporan keberlanjutan Summarecon, Festival Kuliner Serpong disebut telah berlangsung sejak 2011.
Festival ini menjadi salah satu sarana untuk mempromosikan seni, budaya dan kuliner lokal, nasional hingga internasional, sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM kuliner.
Di balik keramaian pengunjung, ada pelaku usaha yang sedang mencari pelanggan baru, memperkenalkan produk, menguji pasar dan membangun keberlanjutan bisnis.

Pada FKS ke-14 tahun ini, ruang tersebut kembali dibuka. Kuliner dari berbagai wilayah Sumatera dipertemukan dengan masyarakat Tangerang dan sekitarnya.
Menjaga Rasa, Membuka Pasar
Perjalanan cendol ampiang dari tradisi Minang menuju pusat keramaian Serpong menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tidak selalu harus dilakukan melalui museum atau buku resep.
Kadang, warisan itu justru hidup ketika seseorang masih mau membuatnya dengan cara lama, menggunakan bahan-bahan yang familiar bagi leluhurnya, lalu menyajikannya kepada generasi baru.
Uda Pay memilih mempertahankan pembuatan cendol dengan daun suji. Ampiang tetap hadir sebagai identitas. Kelapa memberikan rasa gurih. Gula menghadirkan manis. Sementara durian menambah aroma yang membuat sajian semakin mudah dikenali.
Di Festival Kuliner Serpong, semua unsur tersebut bertemu dengan wajah baru mulai dari pengunjung mall, keluarga, anak-anak muda, dan para pencinta kuliner yang datang untuk mencari pengalaman rasa.
Di sanalah FKS menjadi lebih dari sekadar festival. Ia menjadi jembatan.
Jembatan yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, masyarakat dengan kuliner Nusantara, dan generasi hari ini dengan cita rasa yang diwariskan dari masa lalu.
Dan di antara riuhnya festival, semangkuk cendol ampiang Minang mengingatkan bahwa sebuah tradisi tidak akan hilang selama masih ada orang yang mau membuatnya, menjualnya, dan yang paling penting menceritakan asal-usulnya.
Karena menjaga kuliner Nusantara bukan hanya tentang mempertahankan resep, tetapi juga memastikan cerita di balik setiap rasa tetap menemukan penikmatnya.








