Aisvara.id – Teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) kini bukan lagi sekadar tren global, melainkan telah menjadi bagian penting dalam transformasi kehidupan manusia.
Mulai dari sektor industri, kesehatan, hingga pertanian dan keamanan, AI membuka peluang baru yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu institusi pendidikan yang aktif mengembangkan riset AI untuk menjawab tantangan tersebut.
Sejumlah peneliti UGM saat ini tengah memetakan dan memperkuat riset berbasis AI yang aplikatif, sekaligus menjalin kolaborasi strategis dengan mitra industri seperti NVIDIA, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Telkom Indonesia.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat dan dunia industri.
AI Dorong Pertanian Cerdas Berbasis Kearifan Lokal
Di sektor pertanian, UGM mengembangkan konsep pertanian cerdas (smart agriculture) berbasis kecerdasan artifisial.
Dosen Informatika Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa AI mampu membantu petani dalam pengambilan keputusan yang lebih presisi.
Menurut Andri, kebutuhan tanaman tidak bisa disamaratakan secara matematis.
Faktor karakteristik tanaman hingga budaya lokal harus menjadi pertimbangan utama.
Dengan bantuan sensor dan kamera termal, AI dapat mendeteksi kondisi tanaman melalui Crop Water Stress Index (CWSI).
“Tujuannya bukan menghilangkan stres tanaman sepenuhnya, tetapi menjaga stres tetap pada level terukur agar tanaman tetap produktif dan tumbuh optimal,” jelas Andri dalam keterangan resminya, Kamis (5/2/2026).
Teknologi AI juga diterapkan pada sistem indoor farming, di mana pencahayaan diatur sedemikian rupa agar meniru ritme alami matahari.
Hal ini penting agar tanaman tidak mengalami perubahan ekstrem yang dapat menghambat pertumbuhan.
Kabel Fiber Optik Jadi Sensor Cerdas Laut dan Bumi
Tak hanya di pertanian, pemanfaatan AI juga dikembangkan di bidang kebumian dan kelautan.
Peneliti Eksplorasi Seismik FMIPA UGM, Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto, S.Si., M.Si., mengungkapkan bahwa kabel fiber optik kini bisa difungsikan sebagai sensor getaran berskala besar.
Dengan teknologi ini, kabel fiber optik dapat bertindak layaknya “mikrofon” yang mampu merekam getaran sepanjang jalurnya secara real-time.
Keunggulannya, sistem ini memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada sehingga lebih efisien tanpa perlu memasang ribuan sensor baru.
Pemanfaatan tersebut mencakup deteksi gempa bumi, mitigasi tsunami, pemantauan kapal, hingga perlindungan kabel bawah laut dari jangkar kapal.
Bahkan, aktivitas ilegal seperti pencurian ikan dan pergerakan kapal di wilayah perbatasan dapat terpantau lebih dini.
AI berperan penting dalam mengolah data getaran yang sangat besar untuk membedakan sumbernya, apakah berasal dari gempa, aktivitas kapal, atau bahkan pergerakan ikan besar seperti paus.
Jangkauan pemantauan sistem ini bisa mencapai hingga 100 meter dari jalur kabel.
“Dengan dukungan mitra riset dari Prancis dan validasi menggunakan seismograf, kita berpotensi memperoleh data kondisi laut Indonesia secara real-time,” pungkas Wiwit.








