Aisvara.id – Maraknya aktivitas anak-anak di platform gim daring Roblox kembali menjadi perhatian serius.
Sejumlah materi edukasi yang beredar di media sosial mengingatkan orang tua akan potensi ancaman predator anak yang memanfaatkan fitur interaksi dalam gim untuk mendekati korban.
Dalam materi tersebut disebutkan, sekitar 79 juta anak di seluruh dunia bermain Roblox setiap hari.
Angka ini menunjukkan besarnya potensi risiko jika pengawasan orang tua tidak dilakukan secara optimal.
Roblox sendiri sejatinya dapat menjadi ruang bermain yang aman bagi anak, asal orang tua ikut terlibat aktif dalam pengawasan.
Platform ini telah menyediakan berbagai fitur pengaturan keamanan, namun tidak akan efektif jika tidak diaktifkan secara sadar.
Materi edukasi tersebut menekankan langkah awal yang bisa dilakukan orang tua, yakni meminta anak menunjukkan menu pengaturan di Roblox, lalu mengaktifkan batasan akun serta menghubungkannya dengan akun orang tua.
Dengan begitu, aktivitas anak dapat dipantau, termasuk interaksi, daftar teman, hingga pembelian dalam gim.
Sejumlah pengaturan wajib juga disarankan untuk diterapkan.
Salah satunya adalah mematikan fitur chat, yang dapat membatasi komunikasi anak dengan orang asing dan mengurangi risiko paparan konten tidak pantas.
Disebutkan pula bahwa sejak Januari 2026, fitur chat telah otomatis dinonaktifkan untuk anak di bawah usia sembilan tahun.
Selain itu, orang tua dianjurkan rutin memeriksa daftar teman anak.
Predator kerap menggunakan nama dan avatar menyerupai anak-anak agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Jika ditemukan akun mencurigakan, orang tua diminta segera memblokirnya. Pendekatan komunikasi juga menjadi kunci.
Orang tua disarankan untuk bertanya secara santai kepada anak tentang gim yang dimainkan, bukan dengan nada interogatif.
Anak yang merasa nyaman cenderung lebih terbuka menceritakan pengalaman tidak menyenangkan atau kejanggalan yang dialami saat bermain.
Materi tersebut juga mengungkap modus yang kerap digunakan pelaku, mulai dari mengajak anak ke ruang obrolan privat dalam gim bertema role play, mendekati korban secara perlahan dengan memberi bantuan atau hadiah virtual, hingga mengajak berpindah ke aplikasi lain seperti WhatsApp atau Instagram yang tidak dapat diawasi oleh sistem Roblox.
Pelaku bahkan bisa menyamar sebagai anak di bawah umur, karena sistem verifikasi usia masih dapat dimanipulasi.
Oleh karena itu, orang tua diminta menanamkan pemahaman kepada anak agar tidak mudah percaya pada “teman gim” yang belum pernah ditemui secara langsung.
Pesan utama dari materi edukasi ini menegaskan bahwa keamanan anak di dunia digital tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada aplikasi.
Peran aktif orang tua, baik melalui pengaturan teknis maupun komunikasi yang sehat dengan anak, menjadi benteng utama dalam mencegah kejahatan siber terhadap anak.








