Aisvara.id – Krisis global pasokan chip memori diprediksi menjadi tantangan besar bagi industri perangkat teknologi sepanjang 2026.
Lonjakan masif pengembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mendorong peningkatan permintaan terhadap komponen RAM dan NAND secara signifikan.
Kondisi tersebut berimbas langsung pada struktur biaya produksi produsen perangkat komputer dan laptop, termasuk PT Tera Data Indonusa Tbk (AXIO).
Namun demikian, perseroan mengklaim telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meredam tekanan biaya dari dinamika pasar global tersebut.
Corporate Secretary AXIO, Luhur Budiman, mengungkapkan bahwa manajemen mencermati secara serius perkembangan pasar chip memori dunia.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan chip di level global berpotensi memicu kenaikan biaya produksi apabila tidak diantisipasi dengan pengelolaan yang matang.
“Masifnya pengembangan teknologi AI memang mendorong lonjakan permintaan RAM dan NAND. Namun AXIO memiliki keunggulan kompetitif melalui ekosistem internal, khususnya lini bisnis memori Visipro,” ujar Luhur seperti dikutip Kontan.co.id pada Minggu (1/2/2026).
Keberadaan Visipro sebagai bagian dari ekosistem internal memungkinkan AXIO menjaga stabilitas biaya melalui efisiensi perencanaan kebutuhan (demand forecasting) serta penerapan sistem Just-in-Time Production yang disiplin.
Selain itu, fasilitas manufaktur terintegrasi yang berlokasi di Jakarta Timur turut menjadi penopang utama efisiensi operasional perusahaan.
Luhur menegaskan, fokus AXIO saat ini adalah memastikan prinsip Innovative Yet Affordable (IYA) tetap terjaga.
Dengan pendekatan tersebut, fluktuasi harga komponen global tidak serta-merta dibebankan kepada konsumen.
“Kami berupaya agar kenaikan biaya di tingkat global tidak langsung berdampak drastis pada harga produk, terlebih karena seluruh alur produksi kami didukung fasilitas manufaktur terintegrasi di Jakarta Timur,” jelasnya.
Terkait harga jual, manajemen AXIO menyatakan hingga kini perusahaan masih memprioritaskan keterjangkauan bagi pasar domestik.
Kenaikan biaya komponen global belum sepenuhnya dialihkan kepada konsumen, sehingga daya beli tetap terjaga.
Strategi ini dinilai efektif menjaga permintaan pasar, tercermin dari kinerja segmen ritel yang masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan.
Produk-produk seperti Axioo Hype dan Pongo disebut tetap diminati karena menawarkan rasio nilai dan performa yang kompetitif.
“Konsumen Indonesia kini semakin cerdas dalam memilih perangkat berkualitas dengan harga terjangkau. Itu yang membuat volume penjualan kami tetap tumbuh,” kata Luhur.
Untuk mempertahankan daya saing harga di tengah tekanan biaya komponen, AXIO mengandalkan strategi integrasi vertikal yang telah dibangun secara konsisten.
Perseroan menerapkan sistem 5C Vertical Integration yang mencakup penguasaan komponen melalui Visipro, manufaktur komputer dengan merek Axioo, penguatan jaringan distribusi di lebih dari 2.000 gerai, layanan purna jual di 184 titik, hingga pengembangan SDM lewat Class Program.
“Dengan integrasi vertikal ini, kami dapat memangkas biaya perantara, mengoptimalkan margin, dan menciptakan efisiensi tinggi. Setiap rupiah yang dibelanjakan konsumen benar-benar menjadi investasi teknologi yang mereka gunakan,” pungkasnya.








