Aisvara.id – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membenahi persoalan sampah kini bergerak ke arah sistem terpadu berbasis teknologi.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari parlemen di Senayan.
Anggota Komisi XII DPR RI, Jamaludin Malik, menilai Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi paling realistis bagi daerah dengan timbulan sampah tinggi dan keterbatasan lahan tempat pembuangan akhir (TPA).
Menurut Jamaludin, dorongan Jawa Tengah terhadap proyek PSEL sudah berada di jalur yang tepat.
Ia menegaskan, DPR siap mengawal agar implementasi PSEL berjalan ramah lingkungan sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi daerah.
“Jawa Tengah sudah tepat mendorong PSEL. DPR mendukung agar proyek ini tidak hanya berorientasi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi,” ujar Jamaludin dalam keterangan tertulisnya kepada Parlementaria, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, secara nasional target pengelolaan sampah sebesar 63,41 persen dalam RPJMN 2025–2029 akan sulit tercapai tanpa dukungan regulasi dan alokasi anggaran yang memadai dari DPR.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari total 21,65 juta ton timbunan sampah nasional pada 2025, baru sekitar 35 persen yang berhasil dikelola.
Kondisi tersebut, kata Jamaludin, menegaskan bahwa PSEL bukan sekadar proyek energi alternatif, melainkan instrumen kebijakan strategis untuk menutup kesenjangan pengelolaan sampah nasional.
Di tingkat regional, sinergi lintas daerah mulai diperlihatkan di kawasan Tegal Raya. Pemerintah Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal sepakat membangun fasilitas PSEL bersama.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Letter of Expression of Interest (LoI) serta pernyataan kerja sama antarpemerintah daerah.
“Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas wilayah adalah kunci pengendalian sampah,” ujar Jamaludin, yang dikenal publik dengan ikon Ultraman.
Data Pemerintah Kabupaten Tegal menunjukkan timbulan sampah mencapai 670,38 ton per hari.
Namun, kemampuan pengolahan baru menyentuh sekitar 5,3 persen, sementara sisanya masih berpotensi mencemari lingkungan akibat keterbatasan fasilitas dan metode pengelolaan konvensional.
Sementara itu, di level provinsi, Pemerintah Jawa Tengah juga menggandeng investor asal Tiongkok yang tergabung dalam Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC) bersama mitra lokal PT L-Energy Green Solutions.
Program ini melibatkan Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang dalam skema pengelolaan sampah regional berbasis teknologi modern.
Kolaborasi tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk meninggalkan praktik open dumping yang selama ini menjadi masalah klasik.
Jawa Tengah kini mulai beralih dari pola TPA konvensional menuju Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) hingga pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik.
Mengacu pada data 2024, total timbulan sampah di Jawa Tengah mencapai 6,3 juta ton per tahun, dengan tingkat pengelolaan efektif yang baru menyentuh sekitar 41 persen.
PSEL diharapkan menjadi akselerator utama dalam menekan angka tersebut sekaligus menjawab tantangan lingkungan jangka panjang.








