Aisvara.id – Pemerintah mengungkapkan capaian positif dari penerbitan obligasi global (global bond) perdana yang dilakukan Danantara Indonesia dengan nilai mencapai USD1,5 miliar.
Jumlah tersebut melampaui target awal yang ditetapkan sebesar USD1 miliar.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan tingginya minat investor terlihat dari nilai pemesanan atau book building yang mencapai USD4,6 miliar.
“Dari rencana 1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar. Sehingga melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari 1 miliar menjadi 1,5 billion USD yang di mana itu dibagi menjadi 5 tahun dan juga 10 tahun,” jelas Rosan dalam keterangannya dikutip Selasa (16/6/2026).
Menurut Rosan, respons positif tersebut diperoleh setelah Danantara melakukan rangkaian pertemuan dengan investor di sejumlah pusat keuangan dunia, seperti Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Dalam agenda tersebut, Danantara bertemu dengan 122 investor global.
Tak hanya berhasil meningkatkan nilai penerbitan obligasi, Danantara juga memperoleh tingkat imbal hasil yang dinilai kompetitif.
Obligasi tenor lima tahun ditutup dengan yield sebesar 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 5,95 persen.
“Nah ini adalah hasil yang sangat-sangat baik. Dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini riil ya,” pungkasnya.
Rosan menjelaskan bahwa masing-masing tenor surat utang yang diterbitkan berhasil menghimpun dana sebesar USD750 juta.
Sebagian proses penerbitan juga telah direalisasikan dan dana hasil obligasi dijadwalkan masuk ke rekening Danantara dalam waktu dekat.
“Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing dan tanggal 18 dananya akan masuk ke dalam rekening Danantara,” ungkapnnya.
Ia menambahkan, tingginya minat investor membuka peluang bagi Danantara untuk menerbitkan obligasi dengan tenor yang lebih panjang, bahkan hingga 30 tahun.
Optimisme tersebut didukung oleh persepsi investor terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
“Karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa Indonesia growth-nya ini relatif stabil. Ya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah geopolitik, geoekonomi itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rosan mengungkapkan bahwa investor asal Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar dalam penerbitan obligasi global Danantara.
Kondisi tersebut berbeda dibandingkan tren yang terjadi pada penerbitan surat utang Indonesia sebelumnya.
“Investornya kurang lebih yang 5 tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 21 persen dari Asia, itu yang 5 tahun. Kalau yang 10 tahun, investornya 52 persen dari Amerika Serikat, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 17 persen dari Asia,” tuturnya.
Pencapaian tersebut dinilai menjadi sinyal kuat tingginya kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia serta langkah Danantara dalam mengelola investasi dan pendanaan jangka panjang.








