Aisvara.id – Pemerintah mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap obesitas.
Kondisi kelebihan berat badan kini tidak lagi dianggap sekadar persoalan penampilan, melainkan penyakit kronis yang berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan serius, terutama diabetes melitus tipe 2.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan obesitas perlu ditangani melalui pendekatan medis yang tepat.
Berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis, obesitas secara konsisten menjadi salah satu dari lima masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di Indonesia.
“Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung,” ujar Dante dikutip Minggu (5/7/2026).
Menurut Dante, penelitian genetik yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan genetik terhadap diabetes.
Namun, apakah gen tersebut berkembang menjadi penyakit sangat dipengaruhi oleh pola hidup yang dijalani setiap hari.
Ia juga menyoroti besarnya pengaruh faktor keturunan terhadap risiko diabetes.
Seseorang yang memiliki kedua orang tua penyandang diabetes memiliki peluang lebih tinggi mengalami penyakit tersebut dibandingkan jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes.
“Jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10 persen. Namun, jika kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat drastis menjadi 20 hingga 30 persen pada usia yang jauh lebih muda. Kurva risikonya naik tajam,” paparnya.
Tingginya risiko tersebut tercermin dalam hasil survei kesehatan di Jakarta.
Prevalensi diabetes telah mencapai 12,8 persen atau sekitar satu dari delapan penduduk.
Namun, sebagian besar kasus belum terdeteksi karena banyak penderita tidak mengalami gejala pada tahap awal.
Data menunjukkan hanya sekitar 3 persen penderita yang telah mengetahui diagnosis diabetes.
Sementara sekitar 9,8 persen lainnya baru menyadari kondisi kesehatannya setelah mengikuti survei.
Dante mengakui bahwa menjaga berat badan ideal melalui perubahan pola makan dan olahraga bukan perkara mudah.
Berdasarkan data klinis, tingkat keberhasilan diet secara mandiri dalam jangka panjang hanya berkisar 5 persen.
Sementara itu, operasi bariatrik masih memiliki keterbatasan karena biaya yang tinggi dan hanya dapat dilakukan pada kondisi medis tertentu.
“Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut,” lanjut Dante, yang juga menjabat Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI).
Spesialis Endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Em Yunir, menyebut prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berada pada kisaran 11,5 hingga 11,7 persen.
Menurutnya, diabetes umumnya tidak muncul sebagai penyakit tunggal, tetapi disertai berbagai penyakit penyerta seperti hipertensi dan dislipidemia yang berpotensi menyebabkan kerusakan organ, termasuk gagal ginjal.
Ia menjelaskan bahwa hadirnya inovasi terapi baru berupa zat tirzepatide diharapkan dapat menjadi alternatif penanganan yang lebih komprehensif.
Terapi tersebut bekerja dengan meniru dua hormon alami tubuh yang berperan dalam mengatur rasa lapar sehingga pasien merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama, yang pada akhirnya membantu mengurangi asupan kalori.
“Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan,” jelas Em Yunir.
Meski perkembangan inovasi pengobatan terus berlangsung, para ahli menegaskan bahwa penerapan gaya hidup sehat tetap menjadi langkah utama dalam mencegah maupun mengendalikan obesitas dan diabetes.
Pola makan seimbang serta aktivitas fisik secara rutin dinilai tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.








