Aisvara.id – Pemerintah memastikan kondisi ketahanan energi nasional tetap terjaga meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, saat memberikan keterangan di Seoul, Selasa (31/3/2026).
Menurut Bahlil, cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia saat ini berada dalam posisi aman karena telah melampaui ambang batas minimum yang ditetapkan pemerintah.
Ketersediaan energi tersebut mencakup berbagai jenis, mulai dari solar, bensin, hingga LPG dan avtur.
“Cadangan energi kita saat ini berada di atas standar minimum nasional, baik untuk solar, bensin, gas, avtur, maupun LPG,” ujar Bahlil.
Ia menegaskan bahwa stabilitas tersebut tidak lepas dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong penguatan ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mempercepat implementasi program biodiesel B50.
Kebijakan ini direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi.
Airlangga menjelaskan bahwa kesiapan implementasi telah dilakukan oleh Pertamina, termasuk dalam proses pencampuran (blending) biodiesel.
Program ini diproyeksikan mampu mengurangi konsumsi BBM berbasis fosil hingga 4 juta kiloliter.
“Pertamina sudah siap menjalankan blending B50, dan ini berpotensi menekan penggunaan BBM fosil secara signifikan,” kata Airlangga.
Selain itu, kebijakan B50 juga dinilai mampu memberikan dampak ekonomi berupa efisiensi anggaran negara.
Pemerintah memperkirakan penghematan dari pengurangan subsidi dan konsumsi energi fosil bisa mencapai Rp48 triliun dalam periode satu tahun.
“Dalam enam bulan saja sudah terlihat potensi penghematan, baik dari sisi fosil maupun subsidi biodiesel,” tambahnya.
Optimisme pemerintah semakin kuat dengan proyeksi surplus solar dalam negeri.
Hal ini akan didukung oleh operasional proyek kilang yang masuk dalam program Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kalimantan Timur.
“Dengan implementasi B50, kami optimistis tahun ini Indonesia bisa mengalami surplus solar, terutama setelah proyek RDMP di Kalimantan Timur mulai beroperasi,” ungkap Bahlil.
Untuk memastikan distribusi energi lebih tepat sasaran, pemerintah juga akan menerapkan pembelian BBM berbasis sistem barcode melalui aplikasi MyPertamina.
Dalam skema ini, konsumsi BBM akan dibatasi maksimal 50 liter per kendaraan, kecuali untuk kendaraan umum yang tidak dikenakan pembatasan.
Melalui kombinasi antara ketersediaan stok yang aman, kebijakan inovatif, serta percepatan transisi energi, Indonesia menunjukkan kesiapan dalam menghadapi tantangan global sekaligus melangkah menuju kemandirian energi nasional.








