Aisvara.id – Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.
Di media sosial, muncul berbagai spekulasi yang menuding pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sengaja membiarkan rupiah melemah demi kepentingan tertentu, mulai dari mendukung ekspor hingga menguntungkan pihak yang menyimpan dolar AS.
Namun, jika dicermati lebih jauh, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi kondisi global yang tengah menekan mayoritas mata uang negara berkembang, bukan semata-mata akibat persoalan dalam negeri.
BI Sebut Rupiah Sedang Undervalue
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan kepada Presiden Prabowo bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue atau terlalu rendah dibanding fundamental ekonominya.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi faktor global dan faktor musiman.
“Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal I-2026, inflasi rendah, cadangan devisa kuat, dan kredit yang tumbuh tinggi, seharusnya menjadi dasar rupiah stabil dan menguat. Tapi tekanan jangka pendek memang ada,” kata Perry usai rapat dengan Presiden di Istana Negara, Selasa (5/5/2026).
Menurut Perry, faktor global yang memberi tekanan antara lain tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, yield US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 4,47 persen, serta penguatan dolar AS.
Sementara faktor musiman berasal dari meningkatnya kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan jamaah haji.
Penguatan Dolar AS Menekan Mata Uang Emerging Market
Menguatnya dolar AS bukan hanya berdampak pada rupiah.
Sejumlah mata uang negara berkembang dan Asia juga mengalami tekanan akibat arus modal global yang kembali masuk ke aset berbasis dolar AS.
Mata uang seperti yen Jepang, won Korea Selatan, peso Filipina, hingga rupee India tercatat mengalami volatilitas dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini dipicu kombinasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian global.
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Pembatasan Pembelian Dolar Dinilai Bukan Sinyal Krisis
Isu lain yang ramai diperbincangkan adalah kebijakan pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaction hingga maksimal US$25.000 per bulan.
Di media sosial, kebijakan tersebut dikaitkan dengan dugaan cadangan devisa Indonesia sedang bermasalah.
Padahal, kebijakan serupa pernah diterapkan BI sejak 2015.
Aturan itu bertujuan memastikan transaksi valuta asing dalam jumlah besar benar-benar memiliki kebutuhan nyata, seperti impor, pendidikan, kesehatan, perjalanan luar negeri, maupun investasi legal.
Karena itu, kebijakan tersebut lebih tepat dipahami sebagai langkah menjaga stabilitas pasar keuangan dibanding tanda terjadinya krisis ekonomi.
Rupiah Tidak Bisa Menguat Secara Instan
Pergerakan nilai tukar dipengaruhi banyak faktor eksternal yang berubah cepat, mulai dari ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik, harga energi global, hingga perilaku investor asing.
Karena itu, dampak kebijakan stabilisasi tidak dapat terlihat secara instan dalam hitungan jam atau satu hari setelah diumumkan.
Bank Indonesia sendiri disebut telah menerapkan berbagai langkah stabilisasi secara menyeluruh, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, optimalisasi instrumen moneter, penguatan pasar obligasi, hingga koordinasi dengan pemerintah.
Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Kuat
Di tengah tekanan terhadap rupiah, sejumlah indikator ekonomi domestik dinilai masih cukup solid.
Cadangan devisa Indonesia disebut masih memadai untuk membiayai impor dan kewajiban utang luar negeri jangka pendek.
Selain itu, sektor perbankan nasional juga dinilai memiliki rasio permodalan yang kuat, sementara inflasi domestik masih berada dalam kondisi terkendali.
Investor global pada umumnya tidak hanya memperhatikan pergerakan kurs harian, tetapi juga mempertimbangkan kondisi fiskal, pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
Fluktuasi Rupiah Perlu Disikapi Secara Proporsional
Volatilitas nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang sulit dihindari, khususnya bagi negara berkembang yang terhubung dengan arus modal internasional.
Pelemahan rupiah memang perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada biaya impor, harga energi, dan sentimen pasar.
Namun, menjaga stabilitas psikologis pasar juga dinilai penting agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi kepanikan domestik.
Karena itu, narasi yang menyebut pelemahan rupiah sepenuhnya direkayasa pemerintah dinilai perlu disikapi secara lebih kritis dan proporsional.
Pasalnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang memang sedang terjadi secara luas di tingkat global.








