Aisvara.id – Transformasi dunia kerja berbasis digital semakin nyata seiring pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Menyikapi perubahan tersebut, pelatihan Gig Economy untuk Generasi Z digelar bertepatan dengan soft launching AI Open Innovation Challenge di Aula Timur ITB, Kampus Ganesha, Jumat (30/1/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri.
Program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan ekosistem gig economy di 15 kota di Indonesia, sekaligus memperluas akses generasi muda terhadap peluang kerja berbasis proyek dan ekonomi digital.
Selain membuka peluang kerja fleksibel, inisiatif ini juga fokus pada peningkatan kapasitas talenta Gen Z melalui pelatihan bersertifikasi.
Peserta dibekali kompetensi yang relevan agar mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi AI di berbagai sektor industri yang terus berkembang.
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menilai gig economy mencerminkan pergeseran paradigma dunia kerja modern yang menuntut kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, Jawa Barat memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan gig economy nasional.
“Mahasiswa adalah talenta unggul masa depan. Sementara alumni perguruan tinggi, termasuk alumni ITB, berperan sebagai motor penggerak ekosistem—baik sebagai profesional independen, pendiri startup, mentor, inovator, hingga pengambil kebijakan,” ujarnya.
Prof. Tatacipta menegaskan komitmen ITB untuk terus mendorong sinergi antara kampus, industri, dan pemerintah guna menciptakan lapangan kerja yang berdampak, inklusif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan bahwa gig economy telah menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi daerah.
Dengan dominasi penduduk usia produktif dari Generasi Z dan Y, penguatan kapasitas generasi muda menjadi agenda prioritas pembangunan Jawa Barat.
Ia memaparkan, perekonomian Jawa Barat tumbuh 5,2 persen, melampaui rata-rata nasional, ditopang oleh konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, inflasi yang terkendali, serta investasi dan ekspor yang mencapai 34 miliar dolar AS.
Potensi industri kreatif di Jawa Barat pun dinilai sangat besar dengan nilai mencapai Rp600 triliun dan daya serap tenaga kerja yang luas.
Namun demikian, Herman mengingatkan masih tingginya angka pengangguran yang mencapai 1,6 juta orang serta tingkat kemiskinan sebesar 7,02 persen.
Oleh karena itu, pengembangan gig economy harus disertai pelatihan berkelanjutan dan pendampingan agar berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah.
Di sisi lain, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., menekankan pentingnya kolaborasi tiga pilar—pemerintah, perguruan tinggi, dan industri dalam mendorong kebangkitan ekonomi nasional berbasis teknologi.
Pemerintah, kata dia, siap mendukung pendanaan riset dan inovasi yang dikembangkan di kampus untuk kemudian dihilirisasi oleh sektor industri.
“Gig economy berpotensi menjadi model lahirnya pusat-pusat ekonomi baru. Kolaborasi triple helix adalah kunci, dan kami berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai kampus di Indonesia,” tuturnya.








