Aisvara.id – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa santri perlu memiliki integritas kuat dan mental tangguh agar mampu beradaptasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pesan tersebut disampaikan Fajar saat mengisi kuliah umum bertajuk “Menyikapi Zaman Artificial Intelligence dan Peran Selaku Santri” di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (31/1).
Dalam paparannya, Fajar menjelaskan bahwa latar belakang santri masuk pesantren bisa beragam.
Ada yang datang atas kemauan sendiri, dorongan orang tua, hingga ajakan lingkungan sekitar.
Namun, menurutnya, ketika sudah berada di pesantren, santri harus menjalani proses pendidikan secara total dan penuh kesungguhan.
“Belajar di pesantren tidak cukup setengah-setengah. Harus dijalani dengan hati, jiwa, dan komitmen yang kuat,” ujarnya dikutip dari laman Kemendikdasmen.
Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus dibarengi dengan keuletan, ketekunan, dan kesabaran.
Kombinasi nilai-nilai tersebut, kata Fajar, menjadi fondasi penting untuk membentuk pribadi yang siap menghadapi tantangan zaman.
“Kalau punya kecerdasan sekaligus keuletan, itu sebenarnya sudah menjadi formulasi yang sangat kuat,” tegasnya.
Fajar juga menyinggung kiprah alumni pesantren yang kini berkontribusi di berbagai sektor, mulai dari dunia pendidikan, kewirausahaan, hingga jabatan publik.
Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari mental bertahan (survive) yang sejak awal dibentuk di lingkungan pesantren.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari kekayaan atau jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat.
Nilai ini, kata dia, menjadi karakter khas pendidikan pesantren yang tetap relevan hingga saat ini.
Menanggapi maraknya pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, Fajar menegaskan bahwa disiplin, kejujuran, integritas, dan amanah harus menjadi prinsip utama.
Teknologi AI boleh digunakan untuk mendukung pembelajaran, selama dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
“AI bisa membantu proses belajar. Tapi tanpa kejujuran dan integritas, manusia justru akan menjadi subordinat dari teknologi,” jelasnya.
Selain penguatan karakter, Fajar menambahkan bahwa esensi pendidikan tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan nurani, daya pikir kritis, dan analitis.
Menguasai rumus, hafalan, bahkan teks keagamaan saja dinilai belum cukup tanpa kemampuan berpikir mendalam.
Dalam sesi dialog, ia turut menyinggung Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang kini menjadi bahan evaluasi Kemendikdasmen.
Evaluasi tersebut tidak hanya menilai capaian siswa, tetapi juga metode pengajaran guru di kelas.
Sebagai penutup, Fajar menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) diarahkan untuk menciptakan proses belajar yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan.
“Yang kami dorong saat ini bukan mengganti materi, tapi memperbaiki cara mengajar guru agar pembelajaran benar-benar berdampak,” pungkasnya.
Melalui konsep deep learning, Kemendikdasmen berharap pendidikan mampu melahirkan generasi santri dan pelajar yang berkarakter, berintegritas, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi modern.








