Aisvara.id – “Hey, Cantik”, “Wih, seksi banget sih”, mungkin beberapa wanita pernah mendengarkan kalimat-kalimat ini saat berjalan di trotoar atau berada di angkutan umum.
Jika disampaikan dengan gestur menggoda, siulan, atau teriakan, tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai catcalling.
Fenomena catcalling hingga kini masih kerap terjadi di ruang publik. Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, perilaku ini juga berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kondisi psikologis korban.
Lantas, seperti apa sebenarnya catcalling dan bagaimana cara meresponsnya?
Catcalling merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual dalam kategori street harassment, yaitu tindakan melontarkan komentar bernuansa sensual atau menggoda di tempat umum.
Pelaku dari tindakan ini dikenal sebagai catcaller.
Meskipun lebih sering dialami oleh perempuan, laki-laki juga tidak sepenuhnya terbebas dari risiko menjadi korban.
Dampak dari catcalling tidak bisa dianggap remeh, karena dapat memicu rasa takut, cemas, hingga menurunkan kepercayaan diri.
Sayangnya, masih ada anggapan di masyarakat yang menganggap perilaku ini sekadar candaan atau hal sepele.
Dalam praktiknya, catcalling kerap dilakukan dengan nada yang terkesan ramah, namun disertai gestur yang tidak pantas.
Tindakan ini bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok.
Bentuknya beragam, mulai dari komentar bernada pujian seperti “Selamat pagi, Cantik” atau “Wangi banget sih, mau ke mana?”, hingga ucapan yang bersifat sensual seperti “Bagus banget sih badannya, nengok dong.”
Selain itu, catcalling juga bisa berupa gestur vulgar seperti berkedip, bersiul, memberikan tatapan bernuansa seksual, menggigit bibir, menjulurkan lidah, hingga membuat suara ciuman.
Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan menghalangi jalan korban atau menguntit hingga ke tujuan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian pelaku menganggap tindakan tersebut hanya sebagai bentuk iseng atau spontanitas tanpa niat menyakiti.
Ada pula yang melakukannya untuk menunjukkan ketertarikan dan berharap respons positif dari korban, seperti senyuman atau balasan ucapan.
Namun, tidak sedikit pelaku yang justru mengharapkan reaksi negatif seperti rasa takut atau marah.
Bahkan, dalam kasus tertentu, tindakan ini dipicu oleh sikap misoginis atau penolakan terhadap nilai-nilai kesetaraan gender.
Bagi korban, catcalling dapat menimbulkan berbagai dampak emosional seperti rasa malu, marah, takut, hingga rendah diri.
Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut bisa meninggalkan trauma yang memicu reaksi fisik seperti mual, mati rasa, atau kesulitan bernapas saat mengingat kejadian.
Jika terjadi berulang, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Untuk menyikapi catcalling, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Korban dapat menegur pelaku secara tegas namun tetap tenang, sebagai bentuk penegasan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima.
Jika merasa diikuti, sebaiknya tetap berada di area ramai agar lebih mudah meminta bantuan.
Apabila kejadian terjadi berulang, korban disarankan melaporkannya kepada petugas keamanan atau pihak berwenang.
Menghindari lokasi yang rawan serta tidak bepergian sendirian juga dapat menjadi langkah pencegahan tambahan.
Meski tidak mudah untuk sepenuhnya menghindari catcalling, membiarkan perilaku tersebut tanpa respons dapat membuat pelaku semakin berani.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran bahwa catcalling bukanlah candaan, melainkan bentuk pelecehan yang harus dihentikan.








