Aisvara.id – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia dinilai tetap terjaga.
Salah satu indikator yang mencerminkan kondisi tersebut adalah realisasi Foreign Direct Investment (FDI) atau Penanaman Modal Asing (PMA), yang menunjukkan komitmen investasi jangka panjang para pelaku usaha internasional.
Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dendy Apriandi, menjelaskan bahwa investasi langsung memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aliran modal di pasar keuangan yang cenderung mudah dipengaruhi oleh sentimen global.
Menurutnya, keputusan investasi langsung lebih didasarkan pada fundamental ekonomi, prospek pasar, kepastian regulasi, hingga keberlanjutan usaha.
“Menarik investasi bukanlah pekerjaan yang mudah di tengah situasi geopolitik global saat ini. Data menunjukkan investor asing tetap tertarik berinvestasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari realisasi investasi yang terus tumbuh, termasuk kontribusi Penanaman Modal Asing yang mencapai 50,1 persen pada Triwulan I 2026. Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap terjaga,” ujar Dendy dalam keterangan resminya dikutip Kamis (2/7/2026).
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi PMA pada Triwulan I 2026 mencapai Rp250 triliun atau setara 50,1 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp498,8 triliun.
Capaian tersebut melanjutkan tren pertumbuhan investasi asing dalam beberapa tahun terakhir.
Nilai PMA tercatat meningkat dari Rp147,2 triliun pada Triwulan I 2022, menjadi Rp177 triliun pada Triwulan I 2023, Rp204,4 triliun pada Triwulan I 2024, Rp230,4 triliun pada Triwulan I 2025, hingga mencapai Rp250 triliun pada Triwulan I 2026.
Dendy menilai konsistensi peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di kawasan.
Hal itu juga terlihat dari beragamnya negara asal investor yang menanamkan modalnya, yakni Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang yang menjadi lima investor terbesar pada Triwulan I 2026.
Selain besarnya nilai investasi, pemerintah juga menekankan pentingnya dampak ekonomi yang dihasilkan dari masuknya modal asing tersebut.
“Yang lebih penting, investasi tidak hanya tercermin di pasar keuangan, tetapi juga mengalir ke sektor-sektor strategis yang meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Itulah manfaat nyata investasi yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Sepanjang Triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat mampu menyerap 706.569 tenaga kerja Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi terus memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja sekaligus mendorong pembangunan ekonomi di berbagai wilayah.
Ke depan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM berkomitmen menjaga iklim investasi tetap kondusif melalui penyederhanaan proses perizinan, peningkatan kepastian berusaha, serta penguatan kebijakan hilirisasi.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga daya saing Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi global.
“Investasi hari ini menentukan masa depan generasi selanjutnya. Karena itu, mari bersama-sama menjaga iklim investasi yang semakin ramah bagi investor agar investasi terus tumbuh dan terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Dendy.








