Aisvara.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi bahan bakar alternatif bernama Petasol, yakni jenis BBM yang dihasilkan dari pengolahan limbah plastik menggunakan teknologi pirolisis Fastpol Gen 5.
Mesin inovatif ini mampu mengolah berbagai jenis plastik seperti LDPE, HDPE, PP, hingga PS, bahkan dalam kondisi basah dan kotor.
“Terobosan ini menjadi solusi untuk menjawab tantangan krisis energi, sekaligus permasalahan sampah plastik,“ jelas Kepala BRIN Arif Satria saat melakukan uji coba Petasol di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara Jateng, pada Jumat (24/4/2026).
Dalam pengujian tersebut, bahan bakar hasil olahan limbah plastik dimanfaatkan untuk mengoperasikan perahu nelayan.
Mesin yang menyala dengan baik menunjukkan potensi penggunaan langsung Petasol di sektor perikanan.
“Petasol ini adalah bahan bakar yang diproduksi dari limbah plastik yang memang sudah tidak bisa didaur ulang. Ini adalah terobosan dari BRIN, dari teman-teman di Organisasi Riset bidang Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN,” kata Arif.
Menurutnya, pengembangan Petasol merupakan langkah responsif BRIN dalam menghadapi ancaman krisis energi global.
Limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat diubah menjadi sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan nelayan maupun sektor pertanian.
Arif menambahkan, keunggulan utama Petasol terletak pada kemampuannya mengubah sampah non-ekonomis menjadi produk bernilai guna, serta menghasilkan emisi yang telah memenuhi standar Lemigas.
“Jadi ini adalah sebuah karya yang menurut saya satu menjawab persoalan lingkungan, kedua adalah menjawab persoalan energi, yang paling penting lagi adalah menyelesaikan masalah sampah. Karena Bapak Presiden sekarang konsen sekali terkait dengan cara mengatasi masalah sampah,” jelasnya.
Ke depan, distribusi Petasol tidak hanya akan difokuskan di Kabupaten Jepara, tetapi juga diperluas ke wilayah pesisir dan kawasan pertanian di berbagai daerah di Indonesia.
“Alhamdulillah ini sudah diterapkan di kurang lebih 84 kabupaten/ kota, dan kami harapkan akan menyebar lebih luas lagi,” ucapnya.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama OREM BRIN Tri Martini Patria menyebut inovasi ini memberikan dampak luas, tidak hanya pada sektor energi tetapi juga lingkungan dan ekonomi.
“Pemanfaatan limbah plastik melalui teknologi pirolisis ini mampu mengurangi emisi CO2e hingga 79 persen dibandingkan pembakaran terbuka. Selain itu, dari sisi ekonomi, terdapat potensi keuntungan hingga sekitar Rp4.700 per liter bahan bakar yang dihasilkan,” ujar Tri.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas bahan bakar Petasol telah melalui pengujian laboratorium dan memenuhi standar yang berlaku.
Uji coba yang dilakukan oleh BRIN dan Lemigas menunjukkan bahwa bahan bakar ini sesuai dengan standar Diesel 48 dan 51, sehingga aman digunakan untuk berbagai mesin.
“Teknologi ini juga dapat diterapkan dalam skala komunitas. Dengan mesin pirolisis berkapasitas 50 kilogram, pengolahan ini dapat membantu menangani sampah plastik dari sekitar 1.000 Kepala Keluarga. Sehingga Petasol ini berpotensi menjadi solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” ucapnya.








